Makan Srikaya Bisa Bikin Kaya

Selasa, 1 Februari 2011

Hari pertama kerja di bulan Februari diawali dengan undangan meeting tahunan dari Regional Accounting. Kebetulan acaranya diadakan di Kantor Perwakilan di Karawang.  Wah sudah lama juga saya tidak pergi ke Karawang. Walau kerjaan kantor masih numpuk, undangan meeting ini juga sangat penting karena materi yang akan disampaikan seputar kebijakan laporan dengan modul baru.

Saya, dan 2 atasan langsungku (AFM & Ass AFM), beserta rekan kerjaku spv Finance, dan dari Regional sendiri, yaitu RAM (Regional Accounting Manager) dan sekretarisnya berangkat dari Bandung pukul 07.15 WIB dalam satu kendaraan. Sampai Karawang dengan jalur tol baru, perjalanan tidak terlalu makan waktu lama. Kami hanya mampir sebentar di rest area untuk sarapan, sehingga tiba jam 09 lewat sedikit, lupa tadi tidak diupdate, karena hapeku mendadak pada mati. Di sana sudah tiba lebih dulu rekan-rekan kerja dari Kantor Perwakilan Wilayah Jabar Utara.

Kantor Karawang ternyata masih seperti dulu. Yang saya rasakan perbedaannya ialah suhu udara, biasanya panas, tetapi pagi itu saya masih belum mau melepas jaket saya. Mungkin pengaruh global warming jadi cuaca di beberapa daerah terkadang malah jadi terbalik dari biasanya.

Setelah beramah tamah dengan tuan rumah sebentar, meeting pun dimulai. Tapi di sini saya tidak akan menceritakan materi apa yang dibahas di ruang meeting tadi.

Lompat cerita, setelah jadwal makan siang (biar cepat, ya..) Ibu Kimli, dan Bu Linda mengajakku memetik buah srikaya yang tumbuh di halaman kantor Karawang. Halaman Kantor Karawang memang lumayan luas. Makanya pekarangan ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan. Ada rambutan, srikaya dan beberapa jenis buah lain. Belum lagi yang pohonnya masih berupa perdu dan beberapa tahun ke depan mungkin akan menambah segar halaman kantor.

Terus terang sebenarnya baru kali ini saya melihat jenis buah srikaya. Namanya saja saya pikir ada kaitannya dengan nama makanan yang sering dikonsumsi mama mertuaku kalau sakit. “Itu sih hanya namanya saja yang sama,” kilah Bu Kimli sambil antusias memilih-milih buah mana yang akan ia petik.

Saya baru tahu kalau Srikaya atau orang sering menyebutnya buah nona (Annona squamosa), adalah tanaman yang tergolong ke dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis. Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak (serupa sirsak, jadi saya pikir tadinya itu sodaraan). Daging buahnya berwarna putih dengan biji yang juga mirip biji sirsak. hanya saja rasanya tidak ada asam-asam sama sekali, yang ada malah manis seperti buah melon.

Biasanya srikaya bisa tumbuh mencapai 8 m tingginya. Tapi di depan mata saya buah pohon ini bisa dijangkau dengan tangan.  Daunnya berselang, sederhana, lembing membujur, 7-12 cm panjangnya, dan berlebar 3-4 cm. Bunganya muncul dalam tandan sebanyak 3-4, tiap bunga berlebar 2-3 cm, dengan enam daun bunga/kelopak, kuning-hijau berbintik ungu di dasarnya. Sekilas buahnya seperti mengkudu malah dengan benjolan di sana-sini.

“Nah, yg itu tuh, Ndra,” pekik Bu Kimli girang begitu melihat ada buah srikaya yang tampaknya sudah matang. Ciri-ciri buah yang sudah matang itu warna kulitnya adak kekuning2an.

Indra, Supervisor Administrasi yang baru sebulan bertugas di sana, dengan sigap mengambil bambu yang biasa dipakai untuk memetik buah-buahan. Setelah memilih-milih buah mana yang memang sudah matang, didapatlah 3 buah yang ukurannya cukup, tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, mungkin segede kepalan tangan anak kecil.

Saya pun mulai mencicipi buah itu setelah sebelumnya dicuci terlebih dahulu. Benar saja, rasanya manis.

“Kata orang dulu, sering-seringlah makan srikaya karena bisa bikin kita kaya,” ucap Bu Kimli, konon mitos itu sudah ada sejak dulu. Entah karena diplesetkan dari nama srikaya atau memang ada sejarah lain. Kalau memanfaatkan buah srikaya dan pohonnya untuk keperluan herbalis mungkin memang bisa bikin kita kaya karena selain buah ini mengandung zat besi yang cukup tinggi, bijinya bisa dijadikan tonik rambut, juga buat obat-obatan seperti akar yang rasanya pahit itu, dan bersifat dingin berkhasiat sebagai antiradang, antidepresi. Daun srikaya yang juga pahit, kelat, berkhasiat sebagai astringen, antiradang, peluruh cacing usus (antheimintik), serta mempercepat pemasakan bisul dan abses. Biji nya juga berkhasiat memacu enzim pencernaan, abortivum, anthelmintik, dan pembunuh serangga (insektisida). Kulit kayu berkhasiat astringen dan tonikum. Buah muda dan biji juga berkhasiat sebagai antiparasit.

Belum lagi khasiat buah, kulit dan bijinya yang juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti batuk, demam, rematik, diare, disentri, cacingan, juga buat obat luka luar.

Jadi mitos makan buah srikaya itu mungkin karena berbagai khasiatnya tadi yang bisa membuat badan kita sehat dan kuat, sehingga kita bisa semangat dalam bekerja. Kalau kita semangat kerja, rezeki pasti akan cepat mengalir. Nah, kaya bukan tidak mustahil akan terwujud, kan?

Hemh.. jadi pengen makan buah ini lagi. Sayang, tadi tidak sekalian memetik beberapa buat dimakan ramai-ramai bersama teman-teman di Bandung. []

About kamiluddinazis

Saya adalah seorang karyawan swasta biasa yang memanfaatkan waktu luang bersama keluarga mengelola sebuah taman bacaan di sebuah komplek perumahan di kota Bandung. Membuka usaha toko buku skala menengah untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan warga sekitar & lingkungan yang lebih luas. Memiliki seorang istri yang Insya Allah sholehah, seorang putra 6,5 tahun dan seorang putri berusia 3 tahun.
This entry was posted in Lovely Moment. Bookmark the permalink.

One Response to Makan Srikaya Bisa Bikin Kaya

  1. Sudah setahun lewat tidak terasa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s